Intensitas Gempa Bumi di Provinsi Papua dan Papua Barat Cenderung Meningkat

Dalam kurun enam tahun terakhir intensitas gempa di Provinisi Papua dan Papua Barat dilaporkan memperlihatkan peningkatan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  15:43 WIB
Intensitas Gempa Bumi di Provinsi Papua dan Papua Barat Cenderung Meningkat
Grafik hasil pencatatan seismometer/seismograf, alat pencatat besaran gempa bumi. - Reuters

Bisnis.com, MANOKWARI - Dalam kurun enam tahun terakhir intensitas gempa di Provinisi Papua dan Papua Barat dilaporkan memperlihatkan peningkatan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Manokwari, mencatat intensitas gempa bumi di wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat sejak 2013 hingga 2019 terjadi peningkatan dengan kekuatan ringan hingga sedang.

"Ini hanya dari catatan saya berdasarkan kejadian dan informasi yang saya tindaklanjuti. Bisa jadi kalau kita liat data geologi kejadiannya lebih banyak dari yang saya catat," kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Manokwari, Papua Barat, Denny Putiray, Kamis (1/8/2019).

Denny menyebutkan, pada 2013 di Papua dan Papua Barat terjadi gempa sebanyak 59 kali, khusus untuk Papua Barat 18 kali. Tahun 2014 turun menjadi 42 kali khusus Papua Barat 14 kali.

Pada 2015 kembali terjadi peningkatan sebanyak 62 kali. Sebanyak 22 kali terjadi di Papua Barat sisanya di Papua. 2016 terjadi 58 gempa, Papua dan Papua Barat masing-masing 29 kali kejadian.

"Tahun 2017 meningkat lagi menjadi 93 kejadian gempa. cukup Papua Barat dominan mencapai 69 gempa," kata Denny.

Tahun 2018 intensitas gempa kembali meningkat menjadi 154 kali. Khusus di Papua Barat meningkat hampir dua kali lipat dari tahun 2017. Dari total gempa itu, 116 di antaranya terjadi di Papua Barat.

Sementara untuk tahun 2019 sejak Januari hingga 1 Agustus ini sudah terjadi sebanyak 125 kali gempa bumi. Khusus di Papua Barat sudah mencapai 87 kejadian.

"Ini baru pertengahan tahun tapi peningkatannya sudah cukup lumayan tinggi. Berdasarkan data tahun ini gempa lebih banyak terjadi di wilayah Sorong dan Kaimana," kata Denny.

Seluruh kejadian tersebut, ujar Denny, sudah termasuk gempa yang terjadi di Tambrauw dan Pegunungan Arfak terasa hingga Manokwari pada Kamis(1/8). Sekitar 70 hingga 80 persen pusat gempa berada di darat.

Denny menjelaskan gempa pada dua daerah ini dipengaruhi aktivitas empat lempeng bumi yakni lempeng Asia, Australia, Pasifik serta lempeng kecil Filipina. Akhir-akhir ini yang paling aktif adalah sesar Sorong.

"Bagi saya semua sesar bisa menimbulkan bahaya, termasuk sesar Ransiki, Tambrauw dan Kaimana. Kita harus tetap waspada, paling tidak kalau bangun rumah harus pastikan konstruksinya benar-benar kuat," sebut Denny.

Beberapa pekan lalu terjadi gempa di wilayah Perairan Maluku Tenggara dengan kekuatan mencapai 7,7 skala Ricther. Guncangan akibat gempa itu terasa hingga di wilayah Papua Barat.

"Itu masuk kategori gempa dalam, namun cukup kuat sehingga dampak guncangan meluas bukan hanya di Papua Barat, bahkan terasa hingga di wilayah Nusa Tenggara Barat. Kalau gempa dangkal, waktu itu bisa memicu tsunami," ujar Denny.

Menurut Denny sesar gempa di Maluku Tenggara dan Papua Barat bukanlah satu jalur, begitu pula sesar gempa yang terjadi di Halmahera Maluku Utara beberapa waktu lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
papua, papua barat

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top