Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Teluk Wondama, Papua Barat, Genjot Produksi Rumput Laut

Perairan Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua Barat layak menjadi tempat pengembangan rumput laut yang sangat luas, sehingga pantas apabila nproduksinyabditartgetkan naik 100 kali lipat.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 31 Oktober 2020  |  23:37 WIB
Pekerja memanen rumput laut./Antara - Dedhez Anggara
Pekerja memanen rumput laut./Antara - Dedhez Anggara

Bisnis.com, MANOKWARI – Pemerintah Provinsi Papua Barat berharap hasil penen rumput laut di Kabupaten Teluk Wondama meningkat 100 kali lipat.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Papua Barat mengatakan perairan Teluk Wondama masih sangat luas. Jika dioptimalkan, sangat mungkin target itu tercapai.

"Apalagi dari sisi iklim kita sangat diuntungkan. Wilayah kita berada di Khatulistiwa yang beriklim tropis sehingga penanaman dan panen bisa dilakukan sepanjang tahun," ucap Heatubun di Manokwari pada Sabtu (31/10/2020).

Dia mengemukakan pada awal pekan ini lalu 20 ton hasil panen rumput laut petani asli Papua di Teluk Wondama dikirim ke Surabaya. Saat ini rumput laut baru dikembangkan di sejumlah kampung yang tersebar di tiga distrik/kecamatan yakni Roon, Roswar serta Rumberpon.

Dia berharap masyarakat pesisir di distrik lain juga mulai membudidayakan tanaman tersebut. Saat ini produksi rumput laut di daerah tersebut masih sangat kecil, sedangkan pasar sudah terbuka lebar.

"Kendala kita ada pada petani, belum banyak masyarakat di sana yang membudidayakan rumput laut. Mudah-mudahan setelah melihat hasilnya, yang lain tergiur dan mau memulai," ucapnya.

Secara keseluruhan, kata Heatubun, produksi petani di tiga distrik ini baru berada pada kisaran 10 hingga 20 ton per panen. Dengan luas wilayah perairan di Teluk Wondama produksi bisa ditingkatkan setidaknya mencapai 200 ton.

Di sisi lain, lanjutnya, transportasi masih kendala dan membutuhkan perhatian serius dari sejumlah pemangku kepentingan. "Mengingat jalur distribusi sangat berpengaruh terhadap pemberlakuan harga di tingkat petani. Biaya operasionalnya imbasnya, harga di petani tertekan."

"Petani mendapat harga Rp6.000 per kg, sedangkan harga jual di Surabaya Rp18.000. Ada kesenjangan cukup jauh, karena pembeli harus menanggung seluruh biaya operasional," ungkapnya.

Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan Papua Barat yang masuk dalam skema investasi hijau. Selain Teluk Wondama, pengembangan juga didorong di Missol, Raja Ampat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rumput laut Papua Barat

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top