Gempa Ambon, Ingatan Tsunami dan Kisah Unik Setelahnya

Kisah mengenai kejadian tsunami pada 8 Oktober 1950 memicu warga Desa Hutumuri, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, mengungsi.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  21:55 WIB
Gempa Ambon, Ingatan Tsunami dan Kisah Unik Setelahnya
Sejumlah pengungsi korban gempa bumi memperbaiki tenda yang ditempatinya di lokasi pengungsian Desa Waai, Pulau Ambon, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (5/10/2019). - Antara/Izaac Mulyawan

Bisnis.com, AMBON – Kisah mengenai kejadian tsunami pada 8 Oktober 1950 memicu warga Desa Hutumuri, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, mengungsi ke daerah yang lebih tinggi saat gempa dengan magnitudo 6,5 melanda wilayah Ambon pada 26 September 2019.

"Kami memilih mengungsi karena cerita para orang tua tentang tsunami meluluhlantakkan rumah-rumah maupun fasilitas lainnya saat itu, yang syukurnya tidak ada korban jiwa," kata tokoh masyarakat Desa Hutumuri, Cak Pattiasina (60), Senin.

Saat tsunami melanda Desa Hutumuri serta Desa Hatiwe Kecil dan Galala di Kecamatan Sirimau tahun 1950, Kota Ambon belum lahir. Namun cerita-cerita mengenai bencana itu masih hidup sampai sekarang.

"Desa Hutumuri sebagian besar rumah warganya di pesisir pantai sehingga mengungsi ke kawasan Bere-Bere maupun daerah tinggi lainnya karena tidak mau ada korban jiwa bila bencana gempa bumi dalam skala besar yang mengakibatkan tsunami benar-benar terjadi sebagaimana pada 8 Oktober 1950," ujar Cak.

Dia mengemukakan, kala itu tsunami tidak sampai mengakibatkan korban jiwa karena warga melihat tanda-tanda yang diduga menunjukkan kapal perang milik TNI siap menyerang pendukung gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS).

"Jadi warga Hutumuri berlarian masuk hutan di kawasan perbukitan sehingga tidak ada korban jiwa, kendati permukiman dihantam tsunami menjadi luluh lantak," kata Cak.

Setelah gempa September, warga Desa Hutumuri mengungsi karena sebelumnya melihat ikan-ikan karang yang mati terdampar di pesisir Kecamatan Leitimur Selatan.

"Kami belum menerima penjelasan resmi dari pemerintah maupun lembaga penelitian kompeten soal penyebab kematian ribuan ikan karang sehingga mengaitkannya dengan gempa," kata Cak.

Sejumlah relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Maluku membangun sarana Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) darurat bagi para pengungsi korban gempa bumi di lokasi pengungsian Desa Waai, Pulau Ambon, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Sabtu (5/10/2019). Para pengungsi tersebut mengungsi ke hutan dan menempati tenda-tenda yang dibangun sendiri pasca terjadinya gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5 yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya, Kamis (26/9/2019)./Antara-Izaac Mulyawan

Hawa Panas

Lantai rumah seorang warga di Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon dilaporkan mengeluarkan hawa panas yang tidak biasa setelah gempa bumi magnitudo 6,5 mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya pada 26 September 2019.

Lantai rumah keluarga Hupatea yang berada di blok 2 Nomor 5 komplek perumahan BTN Wayame, Senin (7/10/2019), dilaporkan mengeluarkan hawa panas yang tidak biasa sejak guncangan gempa tektonik 6,5 skala richter.

Ny Christin Hutapea (53) saat ditemui di rumahnya, mengatakan lantai ruang keluarga mulai mengeluarkan hawa panas dengan suhu yang cukup tinggi sesaat setelah gempa terjadi, dan tak kunjung mereda hingga kini.

Semula ia dan keluarga menduga hawa panas tersebut disebabkan oleh adanya gangguan listrik, tetapi setelah memadamkan aliran listrik di rumahnya, hawa panas masih tetap terasa.

"Mulai panas sejak gempa itu dan suhunya belum turun sampai sekarang. Tadinya kami kira itu ada hubungannya dengan aliran listrik, tapi lantainya masih tetap panas walau listrik sudah dipadamkan," katanya.

Wakil Gubernur (Wagub) Maluku Barnabas Orno (ketiga kiri) menjenguk korban gempa yang dirawat di rumah sakit lapangan di kompleks Kampus Universitas Darussalam, Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Selasa (1/10/2019). Rumah sakit lapangan tersebut dikelola oleh dokter dan paramedis dari RSUD Ishak Umarella yang bangunannya tidak bisa digunakan akibat retak diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5 yang terjadi Kamis (26/9/2019)./Antara-Izaac Mulyawan

Tanah Ambles

BMKG menyatakan dibutuhkan penelitian mendalam terkait kondisi tanah yang ambruk berbentuk kolam dan dipenuhi air laut dan wacana merelokasi sebagian warga Desa Liang, Kecamatan Salahutu, setelah gempa tektonik dengan kekuatan magnitudo 6,8.

"Memang benar saat terjadi gempa bumi tektonik dengan kekuatan magnitudo 6,8 yang diperbaharui menjadi 6,5 pada Kamis, (26/9) 2019 ditemukan adanya lubang yang menganga dan dipenuhi air laut di Desa Liang," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Ambon, Andi Azhar Ruzdin di Ambon, Senin (7/10/2019).

Longsoran tanah berbentuk lubang yang menganga tersebut memang berada di sekitar rumah penduduk yang letaknya di pesisir pantai.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ambon

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Terpopuler

Top