Kayu Manis Ternate Terancam Tinggal Kenangan

Tanaman kayu manis di Ternate, Maluku Utara, yang sejak zaman dulu terkenal kekhasan aromanya, terancam tinggal kenangan karena petani setempat tidak berminat lagi membudidayakannya.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  07:44 WIB
Kayu Manis Ternate Terancam Tinggal Kenangan
Kayu manis - kemendag.go.id

Bisnis.com, TERNATE – Tanaman kayu manis di Ternate, Maluku Utara, yang sejak zaman dulu terkenal kekhasan aromanya, terancam tinggal kenangan karena petani setempat tidak berminat lagi membudidayakannya.

Salah seorang petani di Kota Ternate, Hamdal,  mengatakan para petani di daerah itu tidak berminat lagi membudidayakan kayu manis karena nilai ekonominya tidak seberapa dibandingkan dengan menanam cengkih atau pala.

Tanaman kayu manis baru bisa diproduksi berusia sekitar 10 tahun dan itu pun yang bisa menghasilkan uang hanya kulitnya, sedangkan kayunya tidak memiliki nilai ekonomi karena tidak dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan.

Menurut dia, satu pohon kayu manis hanya menghasilkan Rp1 juta-an jauh lebih kecil jika dibandingkan hasil cengkih atau pala yang dalam satu pohon bisa menghasilkan Rp5 juta-an dan produksinya berkesinambungan.

Petani sekarang hanya menanam kayu manis sebagai batas kebun. Itu pun jika keberadaannya menghalangi pertumbuhan cengkih dan pala biasanya ditebang karena bisa memengaruhi produktivitas kedua jenis tanaman rempah itu.

Idrus, salah seorang pelaku usaha kuliner tradisional di Ternate, yang bahan baku usahanya memanfaatkan kayu manis, mengakui belakangan ini semakin untuk mendapatkan kayu manis produksi dari Ternate, sehingga mereka terpaksa mendatangkan dari Halmahera.

Para pelaku usaha kuliner tradisional yang bahan bakunya menggunakan kayu manis, seperti kopi rempah dan aneka jenis kue lebih suka memanfaatkan kayu manis dari Ternate karena aromanya lebih harum jika dibandingkan kayu manis dari daerah lainnya di Malut.

Dia menyarankan kepada Pemkot Ternate untuk memberikan insentif kepada petani di daerah ini agar mau kembali membudidayakan kayu manis secara besar-besaran atau menjadikannya sebagai tanaman penghijauan di kawasan hutan kritis yang dibiayai pemerintah.

Kayu manis selain dimanfaatkan untuk bahan baku makanan, juga dipakai untuk bahan pengobatan herbal seperti untuk penyakit diabetes, gangguan pencernaan, dan menurunkan darah tinggi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ternate, rempah

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top