Warga Pegunungan Tengah Papua Diminta Lestarikan Koteka

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto meminta kepada warga di wilayah pegunungan tengah agar melestarikan koteka dengan cara mengajarkannya di sekolah
Newswire
Newswire - Bisnis.com 28 Juli 2019  |  10:48 WIB
Warga Pegunungan Tengah Papua Diminta Lestarikan Koteka
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) mengacungkan jempol usai berfoto bersama para anggota pramuka berkostum tradisional Papua dalam acara Raimuna Nasional XI yang bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-56 Pramuka - ANTARA/Rosa Panggabean

Bisnis.com, JAYAPURA--Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto meminta kepada warga di wilayah pegunungan tengah agar melestarikan koteka dengan cara mengajarkannya di sekolah

Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya sebagian penduduk asli Pulau Papua. Koteka terbuat dari kulit labu air, Lagenaria siceraria. Isi dan biji labu tua dikeluarkan dan kulitnya dijemur. Secara harfiah, kata ini bermakna "pakaian" berasal dari bahasa salah satu suku di Paniai

"Salah satu cara untuk melestarikan koteka adalah dengan mengajarkannya di sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar hingga tingkat menengah di daerah Pegunungan Tengah Papua," kata Hari di Jayapura, Minggu.

Wilayah Pegunungan tengah Papua meliputi sepuluh kabupaten yaitu Jayawijaya, Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, Tolikara, Yahukimo, Nduga, Yalimo, Lani Jaya, Mamberamo Tengah, dan Puncak.

Hari menyebutkan, koteka dapat dimasukan sebagai bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah yang ada di daerah pegunungan tengah Papua. Untuk mendukung ini maka perlu dibuat buku muatan lokal koteka serta perlu disusun kurikulum muatan lokal koteka.

"Dengan mengajarkannya pada generasi muda, diharapkan agar budaya koteka tidak hilang karena jumlah pemakai koteka di Papua semakin menurun," ujarnya.

Walaupun, kata dia, penggunaan koteka sebagai pakaian tradisional semakin berkurang, tetapi saat ini suku-suku di pegunungan tengah Papua masih banyak yang menanam labu air (Lagenaria siceraria) sebagai bahan koteka.

"Labu ini masih ditanam oleh suku Dani, suku Mee, suku Amungme, Suku Lani, Suku Yali dan Suku Mek," katanya.

Generasi muda di pegunungan tengah Papua saat ini, menurut dia, sebagian tidak berkoteka dari usia balita hingga dewasa bahkan sebagian dari mereka tidak mengetahui tentang budaya berkoteka yang merupakan warisan nenek moyang.

Hari menambahkan, pada masa mendatang dikhawatirkan labu pembuat koteka hanya akan menjadi sayur untuk dikonsumsi, sebagai obat tipes atau obat sakit tenggorokan, serta koteka dijual sebagai souvenir.

Diperlukan langkah konkrit untuk melestarikan koteka yakni dengan diajarkannya di sekolah-sekolah.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
papua, warisan budaya

Sumber : Antara

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top