Bahan Makan Pengungsi Maluku Cukup, Tenda dan Lainnya Masih Kurang

Agus Wibowo, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB mengatakan bahwa posko hingga kini mengidentifikasi sejumlah kebutuhan yang masih diperlukan selama penanganan darurat, seperti selimut, matras, air minum, air bersih dan kebutuhan logistik kesehatan.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 06 Oktober 2019  |  14:16 WIB
Bahan Makan Pengungsi Maluku Cukup, Tenda dan Lainnya Masih Kurang
Sejumlah pasien menjalani perawatan di dalam tenda darurat di teras RSUD Haulussy, Ambon, Maluku, Kamis (26/9/2019), terdampak gempa M6,5. - Antara/Izaac Mulyawan.

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa pemenuhan logistik, khususnya permakanan, stok bahan pangan masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan selama satu bulan ke depan.

Namun demikian, beberapa jenis logistik diakui masih minim dari yang diharapkan oleh mereka para pengungsi, seperti tenda atau terpal.

Agus Wibowo, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB mengatakan bahwa posko hingga kini mengidentifikasi sejumlah kebutuhan yang masih diperlukan selama penanganan darurat, seperti selimut, matras, air minum, air bersih dan kebutuhan logistik kesehatan.

“Di sisi lain, kebutuhan personel dengan latar belakang kesehatan juga masih dibutuhkan seperti dokter umum, bidan dan perawat, apoteker dan tenaga psikososial,” ujarnya melalui keterangan resmi yang dikutip Bisnis, Minggu (6/10).

Sementara itu, untuk bantuan logistik tahap kedua BNPB telah tiba di Ambon Sabtu (5/10). Total bantuan logistik yang telah diberikan sebagai berikut selimut 5.500 lembar, tenda gulung 5.000, matras 3.919, sandang 500 paket, family kit 200 paket, tenda keluarga kapasitas besar 15 unit, rumah sakit lapangan 1 unit dan light tower portable sebanyak 1 unit.

Sebelumnya disampaikan bahwa hingga Sabtu (5/10), jumlah penyintas pascagempa Maluku mengalami pergerakan yang dinamis dan cenderung mengalami peningkatan.

Data Posko Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi Maluku per Sabtu (5/10), pukul 18.00 WIT mencatat jumlah penyintas mencapai 135.875 orang.

“Sehari sebelumnya jumlah penyintas sebanyak 111 ribu jiwa,” ujarnya.

Menurutnya kenaikan jumlah pengungsi disebabkan berapa faktor seperti gempa susulan yang masih dirasakan oleh warga.

BMKG mencatat gempa susulan hingga Sabtu (5/10), pukul 21.00 WIT mencapai 1.077 kali dan gempa yang dirasakan mencapai 116 kali.

Tiga hari terakhir gempa susulan memiliki magnitudo yang cukup signifikan antara M 3,5 hingga 4,4.

Di samping itu, kenaikan angka pengungsi khususnya di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) disebabkan berita palsu atau hoaks. Informasi yang beredar melalui mulut ke mulut bahwa tanggal 9 Oktober 2019 nanti akan ada gempa besar.

Faktor selanjutnya warga mengungsi karena ada informasi akan adanya bantuan. Namun tidak spesifik bantuan seperti apa yang diharapkan oleh warga yang sebelumnya pernah mengungsi.

Data posko juga mencatat total jumlah rumah rusak mencapai 6.975 unit. Jumlah rusak berat mencapai 1.914 unit dengan rincian Kabupaten Maluku Tengah (Malteng)  1.339, SBB 285 dan Kota Ambon 230.

Sedangkan rumah rusak sedang, total di Kabupaten Malteng 1.101 unit, SBB 469 dan Kota Ambon 241. Pada kategori rusak ringan mencapai 3.250 unit dengan rincian di Malteng 2.641 unit, Kota Ambon 546 dan SBB 333.

Seperti diketahui bahwa gempa dengan kekuatan M 6,5 pada 26 September lalu telah menyebabkan 37 orang meninggal dunia. Sebagian besar korban disebabkan karena tertimpa bangunann.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
maluku, gempa

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Terpopuler

Top