Ini Deretan Partisipasi BPPT Bangun Raja Ampat

Oleh: Regi Yanuar Widhia Dinnata 15 Februari 2018 | 17:01 WIB
Ini Deretan Partisipasi BPPT Bangun Raja Ampat
Keindahan pulau-pulau karst di Wayaq, Raja Ampat/Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, untuk mengembangkan di sektor pariwisata, teknologi dan inovasi, serta perikanan.

Kepala BPPT Unggul Priyanto menjelaskan potensi sumber daya alam di Kabupaten Raja Ampat sangat besar dan memiliki letak geografis yang strategis.

Dengan demikian, diperlukan infrastruktur fisik dan nonfisik yang baik untuk mengembangkan tempat tersebut menjadi daerah pariwisata, pengembangan teknologi dan inovasi, serta perikanan.

“Teknologi yang dikembangkan mendukung program prioritas nasional, yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah tahun 2015-2019,” kata Unggul dalam siaran pers yang diterima Bisnis pada Rabu (14/2/2018).

Menurutnya, BPPT telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat untuk mengembangkan berbagai teknologi yang bisa mewujudkan kemandirian bangsa, peningkatan daya saing, dan pelayanan publik.

“Dengan teknologi, semoga Raja Ampat ini dapat sejajar bahkan lebih maju dibanding dengan daerah lainnya di Indonesia. Saya harap kerja sama ini dapat dilaksanakan dengan baik,” ujarnya.

Seperti diketahui, beberapa poin kerja sama antara BPPT dan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat meliputi tentang:

1. Peninjauan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Raja Ampat, yang ditandatangani oleh Deputi Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi BPPT, Gatot Dwianto dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Raja Ampat, Abd. Rahman Wairoy.

2. Penyusunan Masterplan Pengembangan Usaha Perikanan Budidaya Laut di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, antara Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT, Arief Arianto dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Raja Ampat, Abd. Rahman Wairoy.

3. Penerapan Teknologi Pengelolaan Air Laut Menjadi Air Siap Minum Berbasis Masyarakat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Raja Ampat, antara Direktur Pusat Teknologi Lingkungan, Rudi Nugroho dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yusdi N. Lamatenggo.

4. Penyusunan Master Plan Kawasan Industri Wilayah Kabupaten Raja Ampatantara Direktur Pusat Teknologi Lingkungan, Rudi Nugroho dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Raja Ampat, Abd. Rahman Wairoy.

Teknologi Air Minum

Sementara itu, BPPT telah menyerahkan teknologi bernama pilot project instalasi pengolahan Air Siap Minum dari Air Laut kepada Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. Adapun teknologi ini mampu mengolah air laut yang rasanya asin, menjadi air bersih, bahkan siap untuk diminum.

Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Raja Ampat Yusuf Salim mengatakan bahwa teknologi air siap minum menjadi salah satu inovasi baru bagi Raja Ampat. "Sebagai destinasi wisata, Raja Ampat harus menyediakan air bersih. Hal ini juga sangat berguna bagi masyarakat setempat," ungkapnya.

Oleh karena itu, dia menambahkan agar masyarakat dapat merawat dengan optimal alat ini agar dapat menyediakan air bersih secara berkelanjutan. "Kedepan kami minta teknologi lain diterapkan disini untuk mendukung daya saing dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ucap Yusuf.

Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, Rudi Nugroho, menjelaskan teknologi air bersih ini mampu menurunkan kadar garam dari 35.000 miligram/liter menjadi 400 miligram/liter. Hal ini telah sesuai standar baku mutu air minum yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan.

Sebelumnya, instalasi ini dipasang di Pelabuhan Umum Waisai, Kabupaten Raja Ampat, namun karena faktor keamanan dan pemanfaatannya kurang optimal, alat ini direvitalisasi dan dipasang ulang di Waigeo Resort Raja Ampat dan telah beroperasi kembali menghasilkan air siap minum dengan kapasitas sampai dengan 5.000 liter per hari.

Dia berharap pilot project ini dapat menjadi model sistem penyediaan air minum untuk kawasan wisata pesisir yang lain di tanah Air. Hal ini karena daerah pesisir dan pulau kecil di Indonesia memiliki kesulitan mengakses air minum.

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya