1.724 Desa di Bumi Cendrawasih Masih Gelap Gulita

PT Perusahaan Listrik Negara (persero) mencatat rasio elektrifikasi 2 provinsi di Indonesia yang masih rendah, yakni Papua dan Papua Barat.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 05 Oktober 2019  |  09:11 WIB
1.724 Desa di Bumi Cendrawasih Masih Gelap Gulita
Krisis listrik - Ilustrasi

Bisnis.com, BALIKPAPAN — PT Perusahaan Listrik Negara (persero) mencatat rasio elektrifikasi 2 provinsi di Indonesia yang masih rendah, yakni Papua dan Papua Barat.

Padahal BUMN Setrum itu menargetkan rasio elektrifikasi di Indonesia hingga mencapai 100% pada 2020.

Direktur Human Capital Management (HCM) PLN Muhamad Ali upaya melistriki “Bumi Cendrawasih” tersebut tidak mudah dilakukan, mengingat sampai Juli 2019 rasio elektrifikasi Provinsi Papua adalah 48,5% dan Papua Barat 91,22%.

Dia memerinci dengan jumlah desa total 7.358, masih ada sekitar 1.724 desa yang masih gelap gulita.

"Berdasarkan data tersebut, Itulah awal mula yang sekaligus menjadi dasar pertimbangan, PT PLN Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua, menetapkan program inisiatif strategis,” jelasnya melalui keterangan resmi, Sabtu (5/10/2019)

Langkah awal yang dilakukan PLN untuk membangun sistem kelistrikan, adalah mengadakan survei kelistrikan, yang menjadi dasar menentukan tahapan atau langkah berikutnya.

Menurutnya seebagai kelanjutan dari Ekspedisi Papua Terang, tahun ini PLN menetapkan program 1.000 Renewable Energy for Papua yang merupakan kerjasama PT PLN (Persero) Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua dengan Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Cenderawasih, LAPAN, dan TNI AD.

Hasil kajian Universitas Indonesia dalam Ekspedisi Papua Terang menyebutkan bahwa sikap penerimaan dan penolakan masyarakat setempat juga terjadi.

“Misalnya ada satu distrik yang menerima kedatangan mereka secara lebih terbuka, yaitu di daerah pantai. Mengapa demikian, sebab apabila dilihat dari karakternya, mereka termasuk dalam kelompok yang biasa menerima kedatangan warga dan tamu asing, sehingga mereka tidak menampakkan curiga.," ungkapnya.

Bedanya dengan kondisi di daerah pegunungan, dengan kontur geografis yang memang sudah sulit dilewati, ternyata juga berpengaruh terhadap sifat dan karakter penduduknya, yang juga tidak mudah menerima apakah informasi ataupun rencana dan niat baik dari anggota tim EPT untuk membawa terang ke Papua.

Namun demikian dapat dipahami, mengapa mereka bersikap demikian. Kenyataan menunjukkan dengan lokasi yang berada di daerah yang banyak terdapat areal pertambangan, maka sebagai penduduk yang berdomisili di sana, praktis mereka tidak mendapatkan manfaat yang setimpal dari potensi sumber daya alam yang ada. Itu sebabnya kerap sebagai penduduk setempat, mereka menaruh rasa curiga terhadap kedatangan orang asing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN, papua

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Terpopuler

Top