Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

SUBSIDI TRANSPORTASI : Titik Layanan Jembatan Udara Terus Ditambah

JAKARTA Kementerian Perhubungan akan menambah jumlah jembatan udara menjadi empat kali lipat dari 12 titik pada 2017 menjadi 41 lokasi tahun ini.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 09 Maret 2018  |  02:00 WIB
Bandara Wamena di Kabupaten Jayawijaya, Papua - Dephub.go.id
Bandara Wamena di Kabupaten Jayawijaya, Papua - Dephub.go.id

JAKARTA – Kementerian Perhubungan akan menambah jumlah jembatan udara menjadi empat kali lipat dari 12 titik pada 2017 menjadi 41 lokasi tahun ini.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso mengatakan ada tujuh tempat yang masih menunggu persetujuan dari Kementerian Perdagangan.

Dia menjelaskan peraturan tersebut merupakan kawasan yang berada di wilayah selain Papua yakni tiga untuk wilayah Kalimantan dan empat untuk Sulawesi.

Beleid itu akan menentukan mengenai jenis barang yang bisa diangkut serta dibutuhkan daerah tersebut.

Dia menegaskan program yang sudah dijalankan sejak November 2017 di Papua itu berpengaruh pada penurunan harga pangan.

“Penurunan komoditas yang sudah ada di Papua mencapai 79%,” katanya kepada Bisnis, Kamis (8/3).

Program jembatan udara merupakan pelaksanaan angkutan udara kargo logistik dari bandara ke bandara lain atau dari bandara ke bandara di daerah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan.

Pemerintah mulai melaksanakan program jembatan udara sejak 2 bulan lalu yang fokus awal pemerintah ada di 12 kota Provinsi Papua.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan program jembatan udara fokus di Papua tepatnya di kota terpencil di perbukitan, karena program tersebut sebagai proyek percontohan nasional.

Sementara itu, Agus memaparkan jembatan udara menggunakan rute penyambung yang menggunakan APBN menggunakan pesawat udara sekelas Boeing 733-F masih dalam proses lelang dan direncanakan menggunakan sistem penunjukan langsung.

PERTIMBANGAN BANDARA

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan program jembatan udara perlu mempertimbangkan faktor ketersediaan dan kondisi lapangan atau tempat pendaratan pesawat terbang dalam pemilihan jenis pesawat.

Menurutnya, beberapa jenis pesawat seperti Boeing 733-F memerlukan landas pacu yang tidak tersedia di beberapa bandara Papua. Padahal, tipe tersebut yang digunakan untuk moda pengiriman dan sedang dalam mencari pemenang tender.

“Pertimbangan penting lainnya adalah harga beli, kapasitas angkut, jarak jelajah, dan biaya operasional. Selain itu, masalah perawatan dan ketersediaan suku cadang pesawat juga harus dipertimbangkan,” katanya.

Dia menilai helikopter menjadi pilihan terbaik saat ini untuk beberapa wilayah pedalaman di Papua, maupun daerah terluar dan terpencil lainnya yang tidak mempunyai landasan pacu.

Dalam jangka menengah, imbuhnya, pemerintah juga perlu menyiapkan infrastruktur, terutama bandara yang memadai sehingga pengiriman barang dapat dilakukan menggunakan pesawat berkapasitas besar.

Setijadi menambahkan perlu ada pengembangan moda transportasi lainnya, termasuk transportasi kereta api dan air sesuai dengan karakteristik wilayahnya.

Namun, dia mengapresiasi upaya pemerintah dalam meningkatkan ketersediaan dan menurunkan disparitas harga terutama di Papua dengan Program Tol Laut dan Jembatan Udara.

“Kombinasi kedua program itu diharapkan menurunkan permasalahan tersebut, termasuk di wilayah-wilayah pedalaman karena banyak wilayah terpencil yang masih sulit dijangkau dengan transportasi darat atau sungai,” tutupnya. (Jaffry Prabu Prakoso)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jembatan udara
Editor : Hendra Wibawa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top