Petani Maluku Utara Terpuruk Akibat Harga Kopra Anjlok, Pemerintah Pusat Didesak Turun Tangan

Oleh: John Andhi Oktaveri 06 Desember 2018 | 14:38 WIB
Petani Maluku Utara Terpuruk Akibat Harga Kopra Anjlok, Pemerintah Pusat Didesak Turun Tangan
Proses pengasapan kopra/Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPD) Matheus Stefi Pasamanjeku meminta pemerintah memberikan perhatian serius guna menjaga stabilitas harga kopra di Maluku Utara agar pendapatan petani penghasil produk komoditas itu tidak kian terpuruk.

“Anjloknya harga kopra membuat sejumlah petani kelapa di Provinsi Maluku Utara mulai menjerit karena produksi banyak, namun harga di pasaran turun drastis menjadi Rp3.500 per kilogram pada tingkat pengumpul kabupaten,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (6/12).

Padahal, ujarnya, enam bulan lalu harga komoditas tersebut sempat menyentuh harga Rp12.000 meski bertahan di kisaran Rp10.000 per kilogram.

Sebelumnya Stefi melakukan kunjungan kerja ke sejumlah kabupaten di Provinsi Maluku Utara sebagai provinsi penghasil utama kopra di Indonesia. Menurutnya, lebih dari 90% petani di provinsi daerah pemilihannya itu merupakan petani kopra.

Stefi mengatakan selain harga komoditas itu lesu di pasar internasional akibat berbagai isu, anjloknya harga kopra juga tidak terlepas dari praktik kartel yang selama ini berlangsung. Menurutnya, kalau praktik kartel tersebut tidak ditindak maka disparitas harga di tingkat petani dan di tingkat user akan semakin tinggi.

“Kami meminta pemerintah pusat untuk ikut mencari solusi sekaligus melakukan intervensi harga kopra, sehingga dapat membantu petani kelapa meningkatkan kehidupan ekonomi mereka,” ujarnya.

Meski tidak menyebutkan angka pasti, namun stefi mengatakan kalau kondisi tersebut dibiarkan maka potensi kerugian petani mencapai puluhan miliar per bulan. 

Dia mengatakan bahwa kalau harga komoditas tersebut berada di bawah Rp5.000 per kilogram maka petani akan merugi karena tidak bisa menutupi biaya produksi dan ongkos transportasi. Akibat kondisi tersebut, kelangsungan pendidikan anak-anak petani setempat juga terancam.

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya