Gardu Induk & Transmisi Listrik 150 kV Pertama di Papua Diresmikan

Oleh: Denis Riantiza Meilanova 25 Agustus 2018 | 02:49 WIB
Gardu Induk & Transmisi Listrik 150 kV Pertama di Papua Diresmikan
Ilustrasi: Petugas melakukan pemeriksaan rutin di Gardu Induk PLN Pusat Pengatur Beban (P2B) Jawa-Bali, di Gandul, Cinere, Depok, Jawa Barat./Antara-Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAYAPURA – Menteri BUMN Rini M. Soemarno meresmikan tiga infrastruktur kelistrikan di Jayapura, Papua, pada Jumat (24/8/2018).

Pengoperasian tiga infrastruktur kelistrikan itu akan memperkuat sistem kelistrikan Papua sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Tiga infrastruktur tersebut yakni sistem 150 kV pertama di Papua yang terdiri atas Gardu Induk (GI) 150 kV Jayapura, GI 150 kV Holtekamp, dan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Holtekamp-Jayapura milik PT PLN (Persero).

Rini mengatakan ketiga infrastruktur ini akan menyalurkan listrik yang dihasilkan pembangkit sehingga semakin banyak warga yang bisa menikmati listrik dan pada akhirnya bisa mendorong kesejahteraan masyarakat.

Dia berharap keberadaan gardu induk dan SUTT 150 KV ini bisa meningkatkan rasio elektrifikasi Papua dan nasional. Saat ini rasio elektrifikasi Provinsi Papua dan Papua Barat tercatat di level 53,62% dan merupakan provinsi dengan rasio elektrifikasi terendah di Indonesia.

“Keberadaan infrastruktur ini sangat penting bagi penyaluran listrik di wilayah ini. Jadi, pemerintah sangat mendukung dan mengapresiasi upaya PLN. PLN bertanggung jawab bagi kelistrikan di Tanah Air, sehingga saya terus mendorong PLN agar terus meningkatkan infrastruktur kelistrikan karena listrik kebutuhan dasar," ujar Rini melalui siaran pers yang diterima Jumat (24/8/2018).

Tak hanya untuk melistriki warga, Rini berharap semakin andalnya listrik di Jayapura bisa menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru dan memudahkan investor yang ingin berinvestasi di Papua.

Ahmad Rofik, Direktur Bisnis Regional Maluku-Papua PLN, mengatakan pengoperasian dua gardu induk dan SUTT 150 KV ini bisa mengoptimalkan pengoperasian pembangkit listrik tenaga gas (PLTMG) Jayapura.

Sebelumnya, PLTG Jayapura hanya dapat memproduksi listrik sebesar 30 megawatt (MW) karena jaringan transmisi dan distribusi yang menyalurkan listrik ke warga masih belum siap. Dengan peningkatan kapasitas infrastruktur penyaluran ini, listrik dari PLTMG Jayapura dapat disalurkan secara penuh yaiu sebesar 50 MW.

Ketiga infastruktur yang baru beroperasi ini juga dapat menyalurkan listrik dari PLTMG Jayapura Peaker 40 MW yang kini sedang dalam proses pembangunan.

Menurut Rofik, tambahan suplai ini dapat disalurkan untuk penambahan daya pasang baru atau pasang sementara bagi rumah tangga dan industri. Jumlah rumah tangga yang dilistriki tercatat 600 ribu pelanggan yang mencakup sistem Jayapura, Sentani, dan Genyem.

Dengan beroperasinya PLTMG, dia memperkirakan PLN bisa menghemat biaya produksi listrik hingga Rp8,7 miliar per bulan.

“Potensi penghematan ini dihitung berdasarkan penurunan specific fuel consumption dan penghentian mesin sewa dari sistem kelistrikan Jayapura,” ujar Rofik.

Tiga infrastruktur itu dibangun dalam 2 tahun dengan biaya Rp341 miliar dengan sumber dana berasal dari anggaran PLN.

Sebelumnya, pemerintah juga telah meresmikan GI Jayapura dan SUTT 70 kV Holtekamp-Jayapura. GI Jayapura mendapat tambahan trafo 150 kV, sedangkan SUTT 70 kV Holtekamp-Jayapura mendapat tambahan insulator dan konduktor tegangan 150 kV.

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya