Harga Bawang di Ambon Mulai Turun Setelah Ada Kapal Sandar

Oleh: Newswire 20 Juli 2018 | 13:16 WIB
Bawang merah di Ambon dipasok dari Jawa./Antara-Saiful Bahri

Bisnis.com, AMBON – Harga bawang yang ditawarkan para pedagang di pasar tradisional Kota Ambon, kini mulai bergerak turun dan bervariasi.

Hasil pantauan di pasar Mardika dan Batu Merah, Jumat (20/7/2018), para pedagang mematok harga bawang putih maupun bawang merah berkisar antara Rp34.000 hingga Rp35.000/Kg, atau turun dari sebelumnya Rp36.000/Kg.

Rudi, pedagang di lokasi pasar Mardika yang ditemui dilokasi penjualannya mengatakan, harga bawang merah maupun bawang putih mulai berlahan-lahan bergerak turun dan bervariasi.

"Bawang yang beredar di pasar Ambon rata-rata berasal dari Probolinggo, Jawa Timur," ujarnya.

Kami beli dari agen dengan harga rata-rata Rp24.000/Kg, setelah dicuci dan dijual kepada para pembeli Rp34.000/Kg, ada juga teman pedagang lain yang menjual berkisar antara Rp35.000 hingga Rp36.000/Kg, tergantung dari kualitas buah bawang.

"Jadi agak lumayan, memang harga bawang putih sedikit perubahan naik biasanya dipatok Rp34.000/Kg, namun sekarang harga di patok sama dengan bawang merah," ujarnya.

Kalau yang sudah dibersihkan dan siap untuk dimasak harga sedikit berbeda yakni Rp37.000/Kg, dan eceran Rp5.000/tumpuk kecil.

Dia mengatakan, kemungkinan harga bawang inji akan turun lagi kebetulan kapal dari Pulau Jawa sudah masuk pelabuhan Ambon sejak hari kemarin, Kamis (19/7), hanya saja ada informasi dari para agen belum ada kegiatan pembongkaran di pelabuhan.

"Lumayan bang, sebab selain bawang ada beberapa jenis sayur yang didatangkan dari Surabaya jhuga sedikit bergerak turun," katanya.

Sedangkan untuk cabai keriting panjang harga masih tetap bertahan yakni Rp50.000/Kg, cabai rawit Rp45.000 dan cabai merah biasa Rp50.000/Kg, dan harga cabai keriting eceran Rp5.000/tmpuk, cabai rawit Rp5.000/cupa (ukuran satu kaleng kental manis).

Rustam pedagang cabai yang dikonfirmasi mengatakan, masih lumayan, harga cabai kariting maupun cabai rawit yang dipatok para pedagang, sebab semuanya merupakan produksi lokal, jadi stok tetap ada untuk mengisi permintaan pasar.

Sumber : Antara

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer