Aksi Budaya Kamoro Berhasil Pukau Publik Swiss

Oleh: Andhika Anggoro Wening 11 April 2018 | 16:08 WIB
Budaya Kamoro di Kultur & Sportzentrum-Pratteln, Swiss/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe (MWK) bekerja sama dengan Yayasan Temata berpartisipasi dalam "Explore Remarkable Indonesia" memperkenalkan seni dan budaya Kamoro asal pesisir Mimika, Papua, di Kultur & Sportzentrum-Pratteln, Swiss, pada 7-8 April 2018.

"Explore Remarkable Indonesia" merupakan event tahunan yang digelar oleh Verein Indonesia-Schweiz (VIS) atau Perkumpulan Indonesia Swiss merupakan hasil kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bern serta Atase Perdagangan Indonesia di Jenewa.

"Fokus acara `Explore Remarkable Indonesia 2018` adalah untuk mempromosikan produk-produk UKM dari daerah di seluruh Indonesia sekaligus menampilkan promosi budaya baik tari maupun musik serta promosi pariwisata daerah," ujar Ketua VIS Lina Schmidlin, Selasa (10/4) malam, di Pratteln, Swiss.

Sementara, Ketua Yayasan MWK Luluk Intarti menyatakan bahwa upaya memboyong budaya Kamoro ke mancanegara merupakan bagian penting dalam melestarikan budaya asal Papua, yang selama ini sangat minim diketahui masyarakat luas, baik nasional maupun internasional. "Seni ukiran atau pahatan pada kayu, juga tari-tarian khas Kamoro, lambat laun pasti akan punah bila tidak dilestarikan," tuturnya.

Lebih lanjut Ketua Yayasan Temata Rini Indyastuti mengatakan, kegiatan ini patut didukung berbagai pihak, terlebih oleh Pemerintah Daerah, karena di masa mendatang potensi ekonomi yang sangat besar justru akan datang dari bidang pariwisata khususnya ekowisata, wisata budaya, dan wisata volunteer. Tiga bidang sub-pariwisata tersebut, menurut Rini, mampu mendongkrak potensi budaya lokal. "Dengan berbagai potensi wisata baru yang lebih ramah lingkungan dan berbasis pada kepedulian terhadap sesama manusia dan budaya lokal, diharapkan peningkatan kesejahteraan masyarakat di berbagai tempat di Indonesia bisa tercapai," jelasnya.

Rombongan asal Mimika yang tampil di hadapan ratusan pengunjung yang memadati Kultur & Sportzentrum-Pratteln, terdiri dari Timo, selaku tokoh adat/kepala suku serta pemahat dan juga penyanyi. Selain itu juga ada Isak (pemahat dan penyanyi), Herman (pemahat dan penari), Elias dan Titus (penari). Mereka menggelar workshop hasil karya pahatan, sekaligus mempertontonkan sejumlah aksi tari-tarian Kamoro, yakni Po Tao (dayung), Tifa duduk/mbake, Mbikao (topeng roh), serta Waututa.

Salah satu suguhan unik yakni tarian Waututa yang mengisahkan kisah legenda tentang pertukaran telur burung kasuari dan burung maleo. Aksi tari-tarian dibuka dengan pukulan tifa, yang dilanjutkan dengan lantunan lagu-lagu tentang cerita yang melegenda tersebut, yang dinyanyikan secara langsung oleh Timo.

Yayasan Temata yang merupakan singkatan dari Telinga Mata Nusantara, memiliki kerinduan untuk bisa menjadi telinga dan mata dari segala hal yang terjadi di Tanah Air. Yayasan Temata memiliki komitmen untuk menyebarkan semua hal baik terkait keindahan alam dan keragaman budaya nusantara, agar bisa dirasakan dan dinikmati oleh khalayak. "Explore Remarkable Indonesia sangat sesuai dengan visi dan misi Yayasan Temata. Kami akan terus berupaya untuk menyebarkan semua kebaikan dan keindahan negeri ini kepada semua orang," kata Luluk.

"Explore Remarkable Indonesia 2018", yang didukung Freeport Indonesia dan Etihad Airways, dibuka Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss Muliaman Dharmansyah Hadad. Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh Student Choir Bogor Agricultural University Agria Swara --yang baru saja menjuarai lomba paduan suara dunia di Montreaux--, serta kegiatan bazaar, kuliner, dan sejumlah kegiatan lainnya.

Pasca-gelaran di Pratteln pada 10 April 2018, Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe dan Yayasan Temata bersama dengan para pemahat dan tokoh adat dari suku Kamoro akan bertolak ke St. Gallen untuk menghadiri undangan warga setempat yang dikelola oleh VIS sekaligus berpromosi.

 terlebih oleh Pemerintah Daerah, karena di masa mendatang potensi ekonomi yang sangat besar justru akan datang dari bidang pariwisata khususnya ekowisata, wisata budaya, dan wisata volunteer. Tiga bidang sub-pariwisata tersebut, menurut Rini, mampu mendongkrak potensi budaya lokal. "Dengan berbagai potensi wisata baru yang lebih ramah lingkungan dan berbasis pada kepedulian terhadap sesama manusia dan budaya lokal, diharapkan peningkatan kesejahteraan masyarakat di berbagai tempat di Indonesia bisa tercapai," jelasnya.

Rombongan asal Mimika yang tampil di hadapan ratusan pengunjung yang memadati Kultur & Sportzentrum-Pratteln, terdiri dari Timo, selaku tokoh adat/kepala suku serta pemahat dan juga penyanyi. Selain itu juga ada Isak (pemahat dan penyanyi), Herman (pemahat dan penari), Elias dan Titus (penari). Mereka menggelar workshop hasil karya pahatan, sekaligus mempertontonkan sejumlah aksi tari-tarian Kamoro, yakni Po Tao (dayung), Tifa duduk/mbake, Mbikao (topeng roh), serta Waututa.

Salah satu suguhan unik yakni tarian Waututa yang mengisahkan kisah legenda tentang pertukaran telur burung kasuari dan burung maleo. Aksi tari-tarian dibuka dengan pukulan tifa, yang dilanjutkan dengan lantunan lagu-lagu tentang cerita yang melegenda tersebut, yang dinyanyikan secara langsung oleh Timo.

Yayasan Temata yang merupakan singkatan dari Telinga Mata Nusantara, memiliki kerinduan untuk bisa menjadi telinga dan mata dari segala hal yang terjadi di Tanah Air. Yayasan Temata memiliki komitmen untuk menyebarkan semua hal baik terkait keindahan alam dan keragaman budaya nusantara, agar bisa dirasakan dan dinikmati oleh khalayak. "Explore Remarkable Indonesia sangat sesuai dengan visi dan misi Yayasan Temata. Kami akan terus berupaya untuk menyebarkan semua kebaikan dan keindahan negeri ini kepada semua orang," kata Luluk.

"Explore Remarkable Indonesia 2018", yang didukung Freeport Indonesia dan Etihad Airways, dibuka Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss Muliaman Dharmansyah Hadad. Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh Student Choir Bogor Agricultural University Agria Swara --yang baru saja menjuarai lomba paduan suara dunia di Montreaux--, serta kegiatan bazaar, kuliner, dan sejumlah kegiatan lainnya.

Pasca-gelaran di Pratteln pada 10 April 2018, Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe dan Yayasan Temata bersama dengan para pemahat dan tokoh adat dari suku Kamoro akan bertolak ke St. Gallen untuk menghadiri undangan warga setempat yang dikelola oleh VIS sekaligus berpromosi.

-->

Editor: Andhika Anggoro Wening

Berita Terkini Lainnya