Patuhi Kebijakan, Produksi Minyak OPEC Turun 70.000 bph

Oleh: Eva Rianti 02 Maret 2018 | 00:14 WIB
Markas OPEC di Wina, Austria/Reuters-Leonhard Foeger

Bisnis.com, JAKARTA – Produksi minyak Organization Negara-Negara Eksportir Minyak Bumi (OPEC) pada Februari 2018 turun 70.000 barel per hari (bph) disokong pengurangan pasokan di Uni Emirat Arab.

Berdasarkan survei Reuters yang dikutip Kamis (1/3/2018), OPEC memompa 32,28 juta barel per hari (bph)pada Februari, turun 70.000 bph dari Januari. Jumlah tersebut merupakan level terendah sejak April 2017.

Menurunnya produksi OPEC pada Februari tersebut menunjukkan dorongan kepatuhan terhadap kesepakatan yang lebih tinggi, naik menjadi 149% dari tingkat kepatuhan pada Januari sebesar 144% seiring dengan lonjakan harga di awal tahun ini ke tingkat tertinggi sejak 2014.

Seperti diketahui, OPEC dan beberapa negara non--OPEC sepakat memangkas produksi sebesar 1,8 juta bph hingga akhir 2018. Perjanjian tersebut bertujuan mengurangi melimpahnya persediaan di pasar global. Dalam perjanjian tersebut, OPEC sendiri berjanji memangkas produksi sejumlah 1,2 juta bph.  

“Kami masih merasa bahwa pekerjaan itu tidak lengkap. Harga adalah satu hal, sedangkan keseimbangan pasar adalah hal lain, dan kita perlu menyeimbangkan pasar” kata Menteri Energi UEA sekaligus Presiden OPEC Suhail al-Mazroue.  

Dalam survei tersebut, dilaporkan bahwa penurunan pasokan terbesar berasal dari UEA yang di tahun ini mulai memegang jabatan sebagai Presiden OPEC.

Output UEA turun 50.000 bph, lebih rendah dari target OPEC. Angka tersebut mencerminkan upaya untuk meningkatkan kepatuhan dan pemeliharaan ladang minyak yang direncanakan.

Penurunan terbesar kedua terjadi di Libya, output turun 30.000 bph lantaran terjadinya penutupan ladang minyak El Feel. Angka ini memulihkan pasokan Libya yang telah mencapai 1 juta bph pada Januari.

Produksi turun lebih lanjut di Venezuela, di mana industri minyak kekurangan dana karena krisis ekonomi. Menurut sumber dalam survei tersebut, ekspor turun pada bulan Februari meskipun operasi kilang meningkat.

Sementara itu, pengekspor utama Arab Saudi mencetak output stabil mendekati 10 juta bph, menunjukkan pasokan tetap di bawah target OPEC.

Produsen OPEC nomor 2 Irak mengekspor lebih sedikit lantaran pengiriman tertunda cuaca buruk. Irak selatan mengekspor lebih banyak dari wilayah Irak utara.

Adapun, di antara negara-negara dengan output yang lebih tinggi, kenaikan terbesar hanya terjadi di Nigeria sebesar 20.000 bph.

Nigeria dan Libya awalnya dibebaskan dari pemotongan pasokan karena produksinya telah dikekang oleh konflik dan kerusuhan. Menurut menteri dan delegasi kedua negara, untuk tahun 2018, kedua negara mengatakan kepada OPEC bahwa output tidak akan melebihi tingkat 2017.

OPEC memiliki target produksi untuk 2018 sebanyak 32,73 juta barel per hari, berdasarkan pemotongan yang diperinci pada akhir 2016 dan mempertimbangkan perubahan keanggotaan, ditambah ekspektasi bergabungnya Nigeria dan Libya terhadap 2018.

Sumber : Reuters

Editor: Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkini Lainnya