REPLANTING PLASMA PTPN V : BNI Padang Kucurkan Rp146 Miliar

Oleh: Arif Gunawan 15 Februari 2018 | 02:00 WIB

PEKANBARU -- BNI Wilayah Padang yang membawahi tiga daerah Sumatra Barat, Riau, dan Kepulauan Riau mengucurkan kredit senilai Rp146 miliar untuk membiayai program penanaman ulang atau replanting kebun kelapa sawit plasma PTPN V di Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau.

Pemimpin BNI Wilayah Padang Rahmad Hidayat mengatakan, saat ini sebagian besar kebun plasma PTPN V sudah berumur di atas 30 tahun dan butuh ditanam ulang. Namun pemilik plasma yakni petani setempat mengalami kendala di pendanaan.

"Karena itu kami ingin membantu petani plasma dengan mengucurkan KUR khusus yang sudah diluncurkan Kemenko Perekonomian dan bunganya sudah turun," katanya kepada Bisnis, Rabu (14/2).

Untuk merealisasikan rencana pembiayaan replanting ini, BNI Padang sudah melakukan sejumlah pertemuan dengan manajemen PTPN V, dan hasilnya disepakati tahun ini luas kebun sawit yang akan dibiayai replanting mencapai 3.390 hektare di Kabupaten Rokan Hulu dan Kabupaten Kampar, Riau.

Setelah disepakati, BNI melakukan perjanjian kerja sama dengan dua koperasi yang mewadahi kelompok tani penerima program KUR khusus tersebut.

Skema yang dipakai pada kredit ini yaitu menggabungkan produk KUR khusus selama 5 tahun, dengan produk kredit BNI Wirausaha sampai total masa kredit selama 13 tahun.

Sistem ini diterapkan mengingat pada 5 tahun pertama adalah grace period atau masa tenggang karena sawit yang ditanam belum menghasilkan. Lalu selanjutnya sawit masuk periode tanaman menghasilkan (TM) 1 dan sejak itulah petani mulai mengangsur kredit sampai total 13 tahun.

"Jadi selama lima tahun KUR khusus itu petani tidak membayar sama sekali, setelah tahun keenam baru membayar angsuran, karena untuk tiap petani hanya maksimal 4 hektare, sisanya itu yang masuk skema pembiayaan dari kami," katanya.

BNI telah menghitung untuk tiap kapling kebun sawit atau 2 hektare, akan menyalurkan pembiayaan maksimal Rp86 juta.

Untuk penerima program ini, BNI bersama koperasi dan PTPN V akan melakukan pemeriksaan kelayakan petani. PTPN V berperan sebagai offtaker karena akan menampung produksi sawit dari kebun tersebut nantinya, tetapi bukan sebagai penjamin kredit (avalis).

"Jaminan yang kami pegang hanya sertifikat kebun milik petani, bukan sertifikat rumahnya, kalau tidak ada itu ya bisa agunan lainnya," katanya.

Humas PTPN V Risky Atriyansyah mengatakan, saat ini luas kebun sawit plasma milik perusahaan pelat merah itu mencapai 56.665 hektare yang tersebar di 6 kabupaten kota Provinsi Riau.

"Dari total itu yang sudah diremajakan baru sekitar 6,1% atau 3479,83 hektare saja, dan tahun ini memang kami sudah bicarakan dengan beberapa bank BUMN," katanya.

Di antara bank yang sudah dijajaki yaitu Bank BNI dan telah disepakati tahun ini mendukung pembiayaan seluas 3.390 hektare.

PTPN V, menurut dia, mendukung program replanting dengan kerja sama perbankan, melalui beberapa tahapan. Pertama, mendorong penataan dan kelembagaan KUD yang mewadahi petani plasma.

Kedua, memastikan semua sertifikat hak milik kebun petani plasma berstatus clean and clear atau bebas dari sengketa.

Ketiga, membantu petani dan koperasi memenuhi persyaratan administrasi kredit bank, lalu keempat berperan sebagai offtaker kebun yang direplanting.

"Kami berharap program replanting dengan dukungan pemerintah dan perbankan ini dapat berjalan lancar supaya produktivitas kebun terus meningkat," katanya.

Editor: Abraham Runga

Berita Terkini Lainnya