Pabrikan Semen BUMN : Pemasaran Terpadu Jadi Opsi

Oleh: Anggara Pernando 05 Februari 2018 | 02:00 WIB
Pabrikan Semen BUMN : Pemasaran Terpadu Jadi Opsi
Pekerja membongkar muatan semen di Pelabuhan Makassar, Senin (28/8)./JIBI-Paulus Tandi Bone

JAKARTA—Pemerintah akan mendorong pemasaran semen terpadu di badan usaha milik negara. Untuk tahap awal, uji coba akan dilakukan di Lampung dan Jambi.

Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Edwin Hidayat Abdullah mengatakan saat ini energi dan distribusi menjadi komponen yang paling besar penyumbang struktur biaya. 

"Energi menyumbang 30%, logistik [distribusi dan penyimpanan] 20%," kata Edwin di Jakarta, pekan lalu. 

Artinya, kedua komponen ini menyumbang 50% terhadap total biaya. Untuk itu diperlukan pengaturan agar bisnis BUMN di sektor semen dapat tumbuh positif dan mampu meningkatkan laba. 

Edwin mengatakan program pemasaran bersama ini akan memanfaatkan jaringan distribusi dan armada masing-masing BUMN. Pola ini diharapkan akan mengurangi tumpang tindih pemasaran. "Kami akan coba di Lampung hingga Jambi karena itu yang paling relevan," katanya. 

Wilayah pemasaran ini merupakan target Semen Padang dan Semen Baturaja. Hasilnya terjadi ketidakefisienan dalam berbinis. 

Sementara itu, pada kesempatan terpisah, PT Semen Baturaja (Persero) menargetkan akuisisi tambang batu bara rampung sebelum akhir 2018. 

Direktur Utama Semen Baturaja Rahmad Pribadi mengatakan akuisisi tambang batu bara merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengendalikan biaya yang timbul dari bahan bakar.

Lonjakan harga batu bara belakangan ini membuat perusahaan harus menyusun ulang strategi untuk mengejar target laba.  

"Mengenai rencana akusisi tambang batu bara, kami akan realisasikan pada 2018," kata Rahmad, Minggu (4/2). 

Dia belum bersedia menyebutkan nilai akuisisi ini. Meski begitu, selama proses uji tuntas untuk tambang batu bara dilakukan, Rahmad mengatakan pihaknya juga menyiapkan strategi tambahan berupa kombinasi penggunaan batu bara.

"Cara lain untuk mengendalikan thermal energy cost adalah dengan melakukan kombinasi penggunaan high and low rank coal," katanya. 

Dengan strategi ini Rahmad optimistis bisnis semen yang digarap perusahaan dapat tumbuh di atas rata-rata industri. Di saat industri semen diperkirakan stagnan, Semen Baturaja menargetkan dapat meningkatkan penjualan hingga 56%. 

“Pada 2018, Semen Baturaja juga menargetkan pertumbuhan volume penjualan sebesar 56% karena telah beroperasinya Pabrik Baturaja II secara penuh,” imbuhnya.

Dengan strategi ini, Rahmad memperkirakan laba bersih perusahaan pada 2018 dapat dikerek hingga Rp210 miliar dibandingkan dengan estimasi 2017 sebesar Rp146,59 miliar.

Pada 2017, nilai penjualan bersih emiten berkode  SMBR tersebut naik tipis sepanjang tahun lalu. Tercatat, nilai penjualan pada 2017 sebesar Rp1,53 triliun sedangkan pada 2016 sebesar Rp1,52 triliun.

Jika ditarik mundur, penjualan semen Baturaja dalam 5 tahun terakhir tumbuh rata-rata sebesar 9%, melampaui pertumbuhan permintaan semen nasional hanya 3%.

Editor: Ratna Ariyanti

Berita Terkini Lainnya