Selama Tiga Pilkada Serentak, Pragmatisme Politik Makin Tinggi

Oleh: Jaffry Prabu Prakoso 13 Januari 2018 | 23:59 WIB
Bakal calon (balon) Walikota Rahmat Effendi (kiri) dan Wakil Walikota Bekasi Tri Adhianto (kanan) menunjukkan salam dua jari usai melakukan pendaftaran di Kantor KPU Bekasi, Jawa Barat, Rabu (10/1) malam./Antara

Kabar24.com, JAKARTA - Tingginya biaya kampanye untuk mengajukan diri dalam pemilihan kepala daerah membuat para bakal calon kepala daerah lebih memilih bermain politik secara praktis.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) mencatat indikasi naiknya pragmatisme didorong karena berkurangnya calon perseorangan.

Berdasarkan catatan Perludem, tahun ini hanya ada 130 calon perseorangan dari 573 pemilihan atau 22.69%. Sedangkan pada 2017 ada 91 calon perseorangan dari 337 pemilihan dengan persentase 26.71%.

"Ini kenapa calon perseorangan makin sedikit karena biaya yang tinggi. Makanya dari tahun-tahun calon perseorangan itu semakin menurun," katanya di Jakarta, Sabtu (13/1/2018).

Menurut Titi, biaya tinggi membuat calon perseorangan enggan untuk bertarung dalam pesta demokrasi. Mereka lebih berpikir realistis karena sudah pasti kalah. "Ya sudah dukung saja calon tunggal. Dari awal juga bisa main politik.”

Sementara itu pada Pilkada 2015 ada tiga calon tunggal. Pada 2017 naik menjadi sembilan dan 2018 meningkat jadi 13 calon.

Meski begitu, dari sisi persentase justru jumlahnya menurun. Pada 2015 total 1,12%, 2017 ada 8,91%, dan 2018 ada 7,60%.

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer