INDUSTRI SEMEN : Ekspor Melesat 84%

Oleh: Annisa Sulistyo Rini 12 Januari 2018 | 02:00 WIB
INDUSTRI SEMEN : Ekspor Melesat 84%
Pekerja memindahkan semen ke atas kapal di Pelabuhan Paotere Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (29/11)./JIBI-Paulus Tandi Bone

JAKARTA—Ekspor semen dan clinker melesat 84% sepanjang 2017 sebagai akibat dari kondisi industri semen nasional yang mengalami kelebihan pasokan.

Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia Widodo Santoso mengatakan pasokan semen dalam negeri 40% lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan domestik. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi pabrikan semen, kecuali meningkatkan ekspor semaksimal mungkin ke Bangladesh, Sri Lanka, Afrika, Australia, dan Filipina.

“Total ekspor semen dan clinker pada 2017 sebesar 2,95 juta ton atau meningkat 84% dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 1,6 juta ton,” ujarnya Kamis (11/1/2018).

Untuk tahun ini, ASI berharap ekspor semen dan clinker dapat tumbuh setidaknya hingga mencapai 3,5 juta ton supaya dapat meningkatkan utilisasi pabrik yang masih rendah. Widodo menyebutkan pada tahun ini kelebihan kapasitas produksi clinker sekitar 40% atau sebesar 20 juta ton. Jumlah ini setara dengan 25 juta ton semen.

Sementara itu, konsumsi dalam negeri selama Desember tahun lalu dinilai cukup menggembirakan dengan kenaikan sekitar 7,7% secara tahunan. Secara kumulatif, konsumsi semen domestik sepanjang 2017 tercatat sebesar 66,4 juta ton atau naik 7,8% dibandingkan dengan konsumsi pada tahun sebelumnya.

Widodo menyebutkan kenaikan total konsumsi semen domestik sebesar 4,78 juta ton tersebut disumbang oleh proyek infrastruktur, seperti pembangunan jembatan, irigasi, pelabuhan laut, dan bandara, serta proyek strategis seperti pembangunan pembangkit energi, smelter, pabrik petrokimia, fasilitas pariwisata, dan lainnya.

“Dengan demikian, total penjualan semen dari konsumsi dalam negeri dan ekspor adalah 69,37 juta ton atau naik sekitar 9,7%,” katanya.

Konsumsi semen domestik sepanjang tahun lalu didominasi oleh konsumsi di Jawa sebesar 37,51 juta ton, disusul oleh Sumatra sebesar 14,18 juta ton, dan Sulawesi sebesar 5,32 juta ton. Konsumsi semen di Kalimantan tercatat sebesar 4,12 juta ton, Bali dan Nusa Tenggara sebesar 3,77 juta ton, dan Maluku dan Papua sebesar 1,52 juta ton.

Lebih jauh, dengan proyeksi kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% dan dana infrastruktur yang naik sebesar 6,2%, konsumsi semen dalam negeri diperkirakan naik sebesar 5% pada 2018. Untuk konsumsi semen secara total, baik dalam negeri maupun ekspor, diproyeksi naik 6%.

“Hal ini mengingat pembandingnya sudah sangat besar dengan kenaikan permintaan hampir 8% pada tahun lalu,” jelas Widodo.

Pabrikan semen nasional tetap berharap pemerintah dapat membatasi pengembangan pabrik baru sampai adanya keseimbangan permintaan dalam negeri dengan kapasitas terpasang pabrik, sehingga utilisasi pabrik membaik.

“Semoga pembangunan infrastruktur, proyek-proyek strategis dan properti bisa lebih baik lagi pada tahun ini,” ujarnya.

Editor: Ratna Ariyanti

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer