DIVESTASI SAHAM FREEPORT : AS Berkomitmen Agar Saling Menguntungkan

Oleh: Irene Agustine & Duwi S. Ariyanti 07 Desember 2017 | 02:00 WIB
DIVESTASI SAHAM FREEPORT : AS Berkomitmen Agar Saling Menguntungkan
Area tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Timika, Papua./Antara

JAKARTA — Pemerintah Amerika Serikat menginginkan negosiasi divestasi saham PT Freeport Indonesia dengan pemerintah Indonesia saling menguntungkan kedua belah pihak.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph R. Donovan menyatakan bahwa dirinya sempat membahas perihal kelanjutan investasi PT Freeport Indonesia dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Kami tak bahas panjang lebar, tetapi kami memang membahas secara singkat mengenai permasalahan ini,” kata Donovan usai diterima Wapres JK di kantor Wakil Presiden, Rabu (6/12).

Donovan menjelaskan bahwa sampai saat ini komitmen pemerintah Amerika Serikat terkait dengan negosiasi Freeport adalah untuk mencapai solusi yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

“Saya tadi tetap menyatakan komitmen saya pada hal yang sudah diserukan Presiden Jokowi, kami ingin win-win solution [solusi saling menguntungkan] dan tentu saja kita sudah mengarah ke arah situ,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian ESDM mengharapkan agar negosiasi kelanjutan investasi Freeport Indonesia dapat selesai pada bulan ini. Seperti diketahui, empat poin yang menjadi pembahasan kedua belah pihak meliputi pembangunan smelter, perpanjangan operasi, stabilitas investasi dan divestasi.

Terkait dengan poin divestasi, upaya pemerintah untuk mengakuisisi saham Freeport Indonesia sebesar 51% harus menemui jalan terjal karena kepemilikan 40% saham Rio Tinto proyek Freeport Indonesia.

Terkait dengan hal tersebut, pemerintah rencananya akan menunjuk badan usaha milik negara (BUMN) untuk mengakusisi saham Rio Tinto.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menambahkan bahwa pemerintah masih berupaya bernegosiasi dengan Freeport Indonesia sesuai dengan waktu yang ditetapkan untuk mencapai kesepakatan ideal.

“Masih negosiasi, dan itu sebenarnya saham Freeport itu tetap, yang dinegosiasikan oleh menteri dan timnya [tim divestasi saham Freeport Indonesia] itu saham Rio Tinto Itu,” katanya.

Wapres menjelaskan bahwa pemerintah tetap ingin menjadi mayoritas dalam kepemilikan saham Freeport, tetapi butuh beberapa tahapan dan waktu untuk mencapai target tersebut.

“Tentu ingin saham Indonesia lebih, tapi waktunya tentu ada tahapan. Saya belum tahu hasil perundingan terakhirnya, tetapi kita harus ada tahapannya. Supaya mudah,” jelasnya.

Sementara itu, induk usaha BUMN pertambangan yang dimpin Inalum akan mengakuisisi hak partisipasi Rio Tinto sebesar 40% dalam kerja sama pengelolaan tambang Grasberg.

Dalam paparannya saat menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi VII, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan bahwa saat ini negosiasi untuk mengambil alih saham Rio Tinto masih berjalan.

Menurutnya, BUMN yang ditugaskan pemerintah akan melakukan akuisisi hak partisipasi 40% Rio Tinto bersama dengan BUMD dan suku-suku di Papua yang telah disepakati.

Seperti diketahui, dalam kerja sama yang diteken pada 1995, Rio Tinto bekerja sama dengan Freeport—McMoRan dan pengelolaan tambang Grasberg di Papua.

Rio Tinto memiliki hak 40% apabila produksi mencapai level tertentu. Setelah 2022, dari sebelumnya 2021, karena adanya penyesuaian, jatah 40% Rio Tinto dihitung dari seluruh produksi. (Irene Agustine/Duwi S. Ariyanti)

Editor: Sepudin Zuhri

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer