BLH Mimika: Freeport Minta Perpanjangan Area Pengendapan Tailing

Oleh: Newswire 14 November 2016 | 05:24 WIB
BLH Mimika: Freeport Minta Perpanjangan Area Pengendapan Tailing
Lokasi penambangan Grassberg di Papua yang digarap PT Freeport Indonesia/Reuters

Bisnis.com, TIMIKA - Pejabat pada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, mengemukakan manajemen PT Freeport Indonesia telah mengajukan izin perpanjangan tanggul barat dan tanggul timur area pengendapan tailing atau pasir sisa tambang di wilayah dataran rendah Mimika.

Kepala BLH Mimika Limmi Mokodompit di Timika, Minggu (13/11/2016), mengatakan permohonan izin perpanjangan area pengendapan tailing itu telah diajukan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta.

"Perpanjangan tanggul barat dan tanggul timur area pengendapan tailing PT Freeport itu sementara masih dalam kajian di KLHK Jakarta," kata Mokodompit.

Dia mengatakan hingga kini KLHK masih mengevaluasi Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal) PT Freeport dalam kaitannya dengan pengelolaan tailing yang kini sudah sedemikian jauh mengalir ke wilayah pesisir hingga perairan selatan Mimika.

Selama proses pembahasan dan evaluasi tentang dokumen Amdal PT Freeport Indonesia itu, katanya, BLH Kabupaten Mimika dan BLH Provinsi Papua ikut terlibat langsung.

Mokodompit mengakui beberapa hari lalu tim Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Provinsi Papua mendatangi Pemkab Mimika untuk meminta informasi dan masukan tentang kontribusi perusahaan tambang Freeport terhadap Pemkab Mimika, Provinsi Papua maupun pusat.

"Tim dari BPK datang ke Timika untuk melakukan cros-check sejauhmana PT Freeport telah melakukan kewajiban-kewajibannya sesuai ketentuan yang tertuang dalam dokumen lingkungan. Menurut hemat kami, PT Freeport sejauh ini sudah mematuhi hal itu dengan beberapa penyempurnaan ke depan," katanya.

Selain meminta masukan dari BLH Mimika, tim BPK Perwakilan Papua juga meminta data dan informasi dari Dinas Tenaga Kerja, Dinas ESDM dan Dispenda Mimika menyangkut kontribusi yang diberikan PT Freeport berupa pajak dan penerimaan daerah lainnya ke Pemkab Mimika.

Pasir sisa tambang (sirsat) atau yang lebih populer dikenal dengan istilah tailing PT Freeport Indonesia dialirkan dari pabrik pengolahan wilayah dataran tinggi Mimika, yaitu di Mil 74 Distrik Tembagapura ke wilayah dataran rendah melalui Sungai Aijkwa. Tailing merupakan pasir halus yang tidak lagi mengandung mineral tembaga, perak dan emas.

Material tailing dalam jumlah sangat besar yang dialirkan hingga ke wilayah perairan selatan Mimika itu kini menjadi persoalan baru.

Beberapa sungai di wilayah Distrik Mimika Timur Jauh seperti di kawasan Pasir Hitam sudah sangat dangkal memicu terhambatnya aktivitas lalu lintas masyarakat lokal yang biasanya menggunakan perahu dari kampung mereka ke Timika maupun sebaliknya.

Menyikapi kondisi tersebut, PT Freeport tengah membangun sebuah pelabuhan baru di kawasan perbatasan Kampung Manasari dengan Kampung Otakwa, Distrik Mimika Timur Jauh.

Warga dari kedua kampung itu yang hendak berangkat ke Timika atau sebaliknya, disediakan kapal oleh pihak perusahaan yang bisa melintasi perairan dalam, tanpa harus menyusuri sungai-sungai yang sudah dangkal tersebut.

Sumber : Antara

Editor: Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkini Lainnya